furaktimor.com

Hakarak Hatene kona Timor Leste Nia furak…lalika tauk..visita deit ami nia web.www.furaktimor.wordpress.com. ami sei oferese informasaun furak kona ba Timor Leste nia furak no murak

Upaya peningkatan minat wisatawan dari aspek budaya dan karakter masyarakat local pada objek wisata Be’e Manas Waikana

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Negara Timor Leste merupakan salah satu negara baru yang baru merdeka di beberapa tahun yang lalu dimata dunia. Dimana memperoleh kemerdekannya pada tahun 2002,melalui perjuangan dan perlawanan yang panjang terhadap para penjajah. Setelah memasuki era kemerdekaan pada tahun 2002, Timor Leste dengan membentuk sebuah pemerintahan yang independent serta didukung semaksimal munkin oleh Persatuan Bangsa-bangsa (PBB). Dari pembentukan pemerintahan inilah yang membuat rakyat Timor Leste merasa dirinya aman dari segala ancaman serta standarisasi kemiskinan yang ada. Karena di era penjajahan rakyat Timor Leste tidak memiliki waktu yang cukup luan untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya melalui aktifitas-aktifitas yang ada karena terisolasi oleh ketakutan dan perlakuan-perlakuan yang tidak adil dari militer indonesia
Dengan demikian, maka pemerintahan Timor Leste pun harus menyusun program-program yang mana dapat merespon pada kebutuhan-kebutuhan rakyat tersebut. Program-program seperti: Pendidikan,Kesehatan,Listrik dan transportasi diprioritaskan karena sangat meyangkut terhadap kebutuhan sehari-hari masyarakat. Dan program tambahan lainnya juga diprioritaskan namun tidak menjadi sebuah program terpenting namun hanya berupa penambahan pemgembangan pembangunan
Seperti kepariwisataan,jarang sekali diprioritaskan di beberapa tahun ke belakang oleh pemerintahan Timor Leste. Namun setelah mengetahui bahwa pariwisata adalah sebuah kegiatan yang sangat berguna bagi suatu negara guna menjamin atau mengantikan beberapa produk alam yang ada yakni produk Migas. Karena produk alam seperti migas dapat hilang atau musnah suatu hari namun produk pariwisata tidak akan pernah musnah atau hilang
Dilihat dari beberapa segi,maka pariwisata juga memegan beberapa peranan penting dalam pembangunan kemasyarakatan karena dalam dunia pariwisata jika suatu objek atau produk pariwisata dikembangkan atau dikelolah dengan baik maka dapat menguntungkan masyarakat seperti: membuka lapangan kerja, menambah pendapatan Negara,mempromosikan suatu produk dalam negara,mempromosikan budaya dalam negara ke negara lain,serta menikutsertakan masyarakat berpartisipasi active dalam pembangunan nasional
    Demikian juga di Distric Baucau,Sub-Distric Venilale yang mana memiliki beberapa potensi objek wisata dan daya tariknya, namun jarang sekali diprioritaskan oleh pemerintahan setempat dan lembaga-lembaga LSM yang bersangkutan. Karena belum adanya politik pemberdayaan dan pemgembangan yang baik dari pihak pemerintahan serta lembaga-lembaga berkaitan. Namun di Distric baucau sendiri teridentifikasi bahawa sebuah Distric di negara Timor leste yang memiliki potensi pariwisata sangat besar serta keunikan ekowisatanya dan Budaya dari Distric tersebut
    Sub-Distric Venilale, yang merupakan Sub-Distric bagian dari Distric Baucau. Yang terletak di bagian Timur yang berbatasan lansung dengan Distric Ossu (Viqueque). Di bagian utara berbatasan dengan Vemasse, di bagian selatan berbatasan dengan Quelikai dan di bagian barat berbatasan dengan Sub-Distric Baucau-Vila. Disamping itu memiliki luas wilaya……….KM2, dan total masyarakat ………juta jiwa.
    Dengan demikian dilihat dari aspek budaya maka Baucau memiliki potensi pariwisata sangat besar karena didukung oleh beberapa aspek antara lain: aspek perayaan kepada Adat-Istiadat, aspek kehidupan bersama, aspek bergotong royong, aspek saling menhormati sesama. Dukungan-dukungan tersebut menjadi modal dasar penambahan pendapatan masyarakat namun perlu adanya bantuan penanganan dari pihak pemerintah serta Lembaga LSM guna menjamin beberapa keingginan tersebut. Adapun beberapa Objek wisata yang menjadi penunjang bagi masyarakat Distric Baucau, lebih-Lebih di Sub-Distric Venilale baik itu objek wisata Alam,Buatan serta aktifitas kepariwisataan antara lain:
No
    Lokasi    Jenis objek-objek wisata    Presentase pengunjung    Perkembangan    Ketersedian sarana dan prasarana
        Objek wisata alam    Objek wisata buatan            
1    Wai-oli, Venilale    Ponte natureza    –    45%/tahun    Perlu dipromosi dan di renovasi    Belum tersedia sarana yang memunkinkan
2    Bado-oh    Be manas Waikana    –    45%/tahun    Perlu dipromosi dan di renovasi    Belum tersedia sarana yang memunkinkan
3    Uma ana iku    –    Goa 7    82%/tahun    Perlu dipromosi dan di renovasi    Belum tersedia sarana yang memunkinkan
4    Uma ana ulu        Eskola Reinho     76%/tahun    Perlu promosi    Perlenkapan lain
5    Uma ana ulu        Merkado Municipal    64%/tahun    Perlu promosi    Perlenkapan lain
6    Uma ana ulu        Peningalan penjara    12%tahun    Perlu promosi    Perlengkapan lain
7    Badu-oh    Gunung ariana    _    16%/tahun    Perlu promosi    Perlenkapan lain
8    Badu-oh     Persawaan ariana    _    0,6%/pertahun    Perlu promosi dan pengembangan    Perlenkapan lain
9    Uma ana iku    Be manas berkoli    _    12%/tahun    Perlu promosi     Perlenkapan lain
10    Badu-0h    Persawaan kaikoli    –    10%/tahun    Perlu rpomosi    Perlenkapang lain
11    Badu-oh        Gereja Venilale    89%/tahun    Perlu promosi    Perlenkapan lain
12    Badu-oh        Asrama kesusteran    53%/tahun    Perlu promosi    Perlenkapan lain

Objek-objek wisata yang tertera diatas tersebut memiliki nilai atau jumlah pengunjung yang sedikit berbeda karena adanya minat wisatawan atas beberapa objek wisata tersebut sangat minim namun dilain hal objek-objek wisata tersebut telah sering dikunjungi oleh para wisata baik itu local maupun internasional. Dengan adanya beberapa keunikan dan ketertarikan yang dimiliki oleh objek-objek wisata tersebut namun ada yang masih sangat kurang akibat adanya kurang promosi atas objek wisata tersebut untuk itu perlu adanya peningkatan volume pengunjung tersebut serta mempromosikan dan mengembangkan objek-objek wisata tersebut maka dengan sendirinya wisatawan akan berkunjung dan bisah menambah pendaatan masyarakat di sekitar
Perlu adanya pemberdayaan dari pemerintah atau lembaga LSM kepada masyarakat setempat agar dapat meyakinkan masyarakat mengerti bahwa pariwisata itu sangat penting bagi masyarakat dan bisah mendatangkan beberapa keuntungan. Karena sampai sekarang tidak ada suatu lemgaba yang bisah mengatakan kepada masyarakat bahwa pariwisata sangat penting maka dengan sendirinya masyarakat akan berinisiative mengembangkan sector-sektor pariwisata yang ada di sekeliling mereka. Disamping adayanya pemberdayaan maka perlu juga melestarikan objek wisata serta aktifitas pariwisata yang mempunyai ikatan erat dengan kepariwisataan yang ada. Karena aktifitas kepariwisatanlah yang bisah membuat wisatawan puas serta tetap mengunjungi objek wisata tersebut dihari yang akan datang
Seperti yang dikemukakan oleh The Association Internationale des Experts Scientifique du Tourisme (AIEST) mendefenisikan pariwisata sebagai keseluruhan hubungan dan fenomena yang timbul akibat perjalanan dan pertinggalan (stay) para pendatang, namun yang dimaksud pertinggalan bukan berarti untuk bermukim tetap ( Hunzeiker & Krapf, 1942). Dan di perkuat pula oleh Kurt Morgenroth, pariwisata dalam arti sempit adalah lalu-lintas orang-orang yang meninggalkan tempat  kediamannya untuk sementara waktu, untuk berpesiar di tempat lain semata-mata sebagai konsumen dari buah hasil perekonomian dan kebudayaan, guna memenuhi kebutuhan hidup dan budayanya atau keinginan yang beraneka ragam dari pribadinya.
Namun factor penentu atau daya tarik utama dalam sebuah perjalanan dan pertingalan adalah karakter dan budaya masyarakat setempat karena Perkembangan dunia pariwisata telah mengalami berbagai perubahan baik perubahan pola, bentuk dan sifat kegiatan. Serta dorongan orang untuk melakukan perjalanan, cara berpikir, maupun sifat perkembangan itu sendiri yang mana nantinya dapat menarik perhatian pengunjung untuk berdiam lama di suatu tempat tujuan wisata. Dengan demikian maka, dalam sebuah perjalanan wisatawan selalu beradaptasi dengan beberapa budaya dan karakter masyarakat setempat. Hingga budaya dan karakter tersebut ada yang hampir sama dan ada yang sangat berbeda dan berlainan
 Kebudayaan sendiri merupakan hasil budidaya manusia yang selalu tumbuh dan berkembang. Kebudayaan sudah sejak lama menjadi salah satu garapan dan pembangunan masyarakat. Budaya merupakan salah satu bagian aset kepariwisataan yang memiliki corak beraneka ragam di bumi Timor Leste ini. Seperti bermacam-macam kepercayaan adat, bahasa, gaya hidup, agama dan kepercayaan lain, pembawaan seseorang dll.
Peranan pariwisata dalam pembangunan secara garis besar berintikan tiga segi yakni segi ekonomis  (devisa, pajak-pajak), segi kerjasama antar Negara (persahabatan antarbangsa), segi kebudayaan kekarestristikan (memperkenalkan kebudayaan kita kepada  wisatawan mancanegara). Karena kebudayaan tersebut merupakan suatu daya tarik yang dapat menarik wisatawan guna berbondong-bondong ke Timor Leste
Namun perlu adanya pemeliharaan dan pelestarian atas budaya Timor Leste, karena budaya yang dimiliki oleh masyarakat Timor Leste masih sangat tradisional dan belum dipengaruhi begitu mendalam dari budaya negara lain. Di lain pihak, dengan kebudayaan beraneka ragam tersebut Timor Leste juga memiliki karakter yang bersifat terlalu Etiketisme. Karena karakteritik masyarakat Timor Leste selalu saling menhargai dan menhormati satu sama lain, entah antara sesama dalam negara maupun dengan Luar negeri
Dari semua penjelasan serta argument-argumen dari para ahli di atas maka dapat menarik perhatian penulis guna memilih Judul “Upaya peningkatan minat wisatawan dari aspek budaya dan karakter masyarakat local pada objek wisata Be’e Manas Waikana”  ini guna melakukan analisis,penelitian serta kajian-kajian mengenai beberapa hal tersebut, guna mendapatkan sebuah respons yang cukup signifikan
1.2  Perumusan Masalah
    Dari semua penjelasan di atas maka penulis merumuskan beberapa masalah dalam penelitian ini yakni antara lain:
    Apakah karakter dan budaya local dapat merupakan suatu kunci peningkatan daya kunjung wisatawan?
    Upaya-upaya apa saja yang menjadi tolak ukur keberhasilan budaya dan karakter masyarakat local guna mengembangankan aktifitas kepariwisataanya?
    Bagaimana hasil yang akan didapat jika benar-benar terbukti bahwa budaya dan karakter masyarakat local yang menjadi factor penentu pengembangan pariwisata?
1.3    Tujuan dan kegunaan penelitian
1.3.1    Tujuan Penelitian
Tujuan dari pada penelitian ini antara lain:
a. menidentifikasi akan adanya upaya upaya peningkatan minat wisatawan dari aspek budaya dan karakter masyarakat Lokal
b. untuk mengetahui factor penarikan minat wisatawan
c. untuk mengetahui pula karakter dan budaya masyarakat local di sekitar Be’e manas Waikana guna meninkatkan daya kunjung terhadap objek wisata tersebut
1.3.2    Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini memiliki manfaat antara lain:
a.    Secara Praktis, ) Sebagai sumber informasi dalam penyusunan kebijakan dalam memgembangkan potensi wisata be’e manas guna dapat membantu menambah pendapatan masyarakat sekitar, juga sebagai suatu upaya kontribusi atas pembangunan pariwisata di Timor Leste karena pembangunan pariwisata di Timor Leste memiliki volume yang sangat minim
b.    Bagi Masyarakat,) Dapat memberi informasi guna merubah karakter dan budaya masyarakat sekitar objek wisata tersebut guna menerima wisatawan dari mancanegara dan domestic yang datang dengan berbagai kebudayaan yang berlainan.
c.    Bagi Akademisi,) Secara akademis sebagai bahan referensi untuk menambah wawasan serta bahan untuk melakukan penelitian-penelitian berikut.
1.4    Batasan Masalah
    Dari semua penjelasan mengenai latar belakang serta perumusan masalah di atas maka peneliti pun membatasi masalah yang akan dilakukan penelitian guna mendapatkan hasilnya yaitu:
a.    penelitian hanya berfokus pada karakter serta budaya masyarakat yang mana dapat menarik perhatian para wisatawan guna mengunjungi suatu objek wisata karena masyarkat yang mendiami suatu tempat dekat suatu objek wisata maka perlu adanya karakter dan budaya yang bersifat terbuka atau bisah menerima orang lain. Dengan demikian maka karakter dan budaya lokalah yang menjadi target untuk diteliti oleh peneliti
b.    Penelitian ini pun membatasi ruang gerak peneliti yaitu hanya melakukan penelitian di Suco Badu-oh,Sub-distric Venilale,Distric Baucau, jika kejadian atau hal-hal yang dijelaskan di dalam penelitian ini berlainan dengan penelitian lain yang pada lokasi dan waktu yang tidak sama maka adanya situasi atau kondisi yang berlainan pula. Kondisi serta situasi suatu tempat atau lokasi pasti berrbeda dengan lain
1.4 Defenisi Operasional
Dalam penentuan pengembangan pariwisata, ada beberapa  hal yang perlu di perhatikan. Hal-hal yang mana dapat menjadi tolak ukur kesuksesan pengembangan kapariwisataan, yang akan nantinya menjadi sebuah factor penentu daya tarik wisatawan. Factor penentu tersebut meliputi beberapa aspek antara lain:
a. aspek social yang meliputi: Gotong royong, pola kehidupan bersamaan, pola karakter individu serta group dalam masyarakat, serta factor lingkungan lainya.
b. aspek Cultural masyarakat yang mana meliputi: perayaan-perayaan kepada benda-benda, perayaan kepada patung atau imaginasi manusia serta perayaan lainya
c. aspek ekonomi yang meliputi; pertukaran barang-barang dagangan
d. aspek pertanian dan penanaman yang meliputi: cara-cara memelihara binatang, prospek penanaman bahan pangan, dari aspek-aspek inilah yang menjadi factor penentu daya tarik wisata,karena beberpa aspek tersebut masing-masing memiliki nilai atau mutu yang berlainan. Aspek-aspek tersebut ada yang memiliki nilai yang cukup tinggi dalam kehidupan masyarakat namun ada pula yang nilai rendah akan tetapi penting dalam kehidupan masyarakat local tersebut untuk itu,perlu adanya penanganan dan pengembangan dari pihak berwewenan karena jika beberapa aspek tersebut telah mengalami perubahan dan memiliki daya tarik yang unik maka akan mendatangkan beberapa keuntugan dalam masyarakat. Dengan demikian maka perlu adanya campur tangan langsung dari masyarakat setempat atas upaya pengembanganya. Karena diliahat dari segi ekonomisnya maka masyarakat setempatlah yang memiliki banyak peluang karena dari hasil pengembangan tersebut dapat membentuk lapangan kerja, pembelanjaan wisatawan, pembayaran akomodasi dan transportasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Karakter
Dari tahun ke tahun tiada seorang ahli yang dapat mendefinisikan karakter ke dalam sebuah teori yang akan dipelajari selanjutnya. Namun, menurut ahli Antropologi koentjaraningrat mengatakan bahwa karakter seseorang atau sekelompok orang merupakan sesuatu sistem kehidupan atau gaya hidup yang mana dapat merupakan sebuah warisan.
Barker (2004:14),mengatakan bahwa karakter seseorang dalam sebuah komunitas merupakan pola ketentuan seseorang itu sendiri untuk menetuhkan kehidupan bersamaanya dengan orang-orang disekeliling. Barker pun menambah bahwa jika karakter seseorang tersebut tidak sesuai dengan kehidupan di lingkunganya maka semua orang yang ada disekeliling akan menjahui dan membencinya. Jadi karakter seseorang merupakan kunci kehidupan bersama dalam sebuah komunitas
Berkaitan dengan sistem kebudayaan dalam sebuah komunitas maka Simon Kemoni, sosiolog asal Kenya mengatakan bahwa proses karakteristik seseorang merupakan pola dasar seseorang guna menerima dan memberi dalam sebuah wilayah. Jika karakter seseorang yang tidak muda menerima orang lain dalam kehidupanya maka karakter tersebut merupakan asumsi yang kurang baik sedangkan karakter seseorang tersebut dengan muda menerima orang lain untuk bergabung denganya maka asumsi tersebut asumsi yang baik pula(Simon kemoni 1994:24)
2.2 Pengertian Budaya
Manurut Mc Iver pakar sosiologi politik yang pernah mengatakan:“Manusia adalah mahluk yang dijerat oleh jaring-jaring yang dirajutnya sendiri”. Jaring-jaring itu adalah kebudayaan. Mc Iver ingin mengatakan bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang diciptakan oleh masyarakat (socially constructed) tetapi pada gilirannya merupakan suatu kekuatan yang mengatur bahkan memaksa manusia untuk melakukan tindakan dengan “pola tertentu”. Kebudayaan bahkan bukan hanya merupakan kekuatan dari luar diri manusia tetapi bisa tertanam dalam kepribadian individu (internalized). Dengan demikian kebudayaan merupakan kekuatan pembentuk pola sikap dan perilaku manusia dari luar dan dari dalam. Unsur paling sentral dalam suatu kebudayaan adalah nilai-nilai (values) yang merupakan suatu konsepsi tentang apa yang benar atau salah (nilai moral), baik atau buruk (nilai etika) serta indah atau jelek (nilai estetika). Dari sistem nilai inilah kemudian tumbuh norma yang merupakan patokan atau rambu-rambu yang mengatur perilaku manusia di dalam bermasyarakat.  
Jelas bahwa, dari uraian diatas maka kebudayaan sendiri merupakan unsur paling dasar (basic) dari suatu masyarakat, sehingga sampai sekarang sebagian ahli sosiolog dan antropolog  masih menganut faham  cultural determinism yaitu bahwa sikap, pola perilaku manusia dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaannya. Lawrence Harrison dalam bukunya “Culture Matters” menggambarkan bagaimana nilai-nilai budaya mempengaruhi kemajuan maupun kemunduran manusia (Harrison, 2000).
Samuel Huntington memberi contoh bahwa pada tahun 1960-an Ghana dan Korea Selatan memiliki kondisi ekonomi yang kurang lebih sama. Tigapuluh tahun kemudian Korea telah menjadi negara maju, tetapi Ghana hampir tidak mengalami kemajuan apapun dan saat ini GNP per capitanya hanya seperlimabelas Korea Selatan.  Ini disebabkan (terutama) karena bangsa Korea (selatan) memiliki nilai-nilai budaya tertentu seperti: hemat, kerja keras, disiplin dsb. Semua tidak dimiliki masyarakat Ghana.
Seorang antroplog terkenal Koentjaraningrat serta budayawan terkenal Mochtar Lubis pernah mengupasnya sekitar tahun 70-an. Lalu,bahwa apa benar budaya merupakan suatu factor determinan pada suatu pengembagan? Mereka mendefinisikan kebudayaan adalah sesuatu yang melekat (inherent) pada suatu masyarakat, yang nantinya membangun atau memproduksi unsur-unsur terpenting didalamnya. Unsur-unsur tersebut yang akan memiliki nilai dalam menentukan akan baik-buruknya suatu kebudayaan masyarakat dalam berpartisipasi di segala aspek pembangunan
Namun adapun beberapa budaya yang perlu diidentifikasi menurut pembawaan seseorang dalam lingkugan hidup yakni:
1)    Social- cultural: yaitu beberapa unsur budaya yang bersifat social yakni meperliahtkan cara serta pola hidup bersamaan dalam suatu lingkungan hidup
2)    Individualy cultural: yaitu beberapa unsur  yang bertentangan dengan kapribadian seseorang dalam berkumpul pada suatu lingkungan
Ada pula beberapa pola hidup masyarakat dalam menanut suatu kebudayaan yakni:
a.    Pola mencari nafkah: dalam suatu lingkungan hidup bermasyarakat ada pula beberapa pola pencarian nafkah yang meliputi: Bertani,memlihara,nelayan Dll
b.    Pola penjagaan: yakni dalam suatu kebudayaan masyarakat terdapat pula beberapa sifat penjagaan yang memiliki makna yang sangat besar dalam bermasyarakat yakni: penjagaan dari roh alam, penjagaan sesama, penjagaan pada tempat yang aman dll
c.    Pola pertolongan: dalam aspek ini budaya masyarakat untuk saling membantu dalam beberapa hal tersulit yakni adanya pola pengikatan antara kekeluargaan yang mana nantinya dapat membantu sesama guna mengatasi suatu masalah yang akan dihadapi dalam lingkungan tersebut
    Dengan demikian, maka kebutuhan seseorang dalam suatu lingkungan hidup memliki suatu aspek kebersamaan dalam penyelesaian semua masalah. Masalah-masalah yang akan dihadapi tersebut dengan sendirinya terselesaikan karena adanya ikatan kekeluargaan yang mana mengikat suatu kehidupan masyarakat (koentjaraningrat:240,1970)
2.3 Definisi budaya dalam dunia Pariwisata
Peran kebijaksanaan pemerintah yang lebih mengarah kepada pertimbangan-pertimbangan ekonomi daripada cultural atau budaya dapat dikatakan merugikan suatu perkembangan kebudayaan. Jennifer Lindsay (1995) dalam bukunya yang berjudul ‘Cultural Policy And The Performing Arts In South-East Asia’, mengungkapkan kebijakan kultural di Asia Tenggara saat ini secara efektif mengubah dan merusak seni-seni pertunjukan tradisional, baik melalui campur tangan, penanganan yang berlebihan, kebijakan-kebijakan tanpa arah, dan tidak ada perhatian yang diberikan pemerintah kepada kebijakan kultural atau konteks kultural.
Konsep kebudayaan jika dikaitkan dengan seni pariwisata akan memperlihatkan adanya kesinambungan pembangunan dalam bidang kesenian. Seni pertunjukan yang ditampilkan masyarakat dalam pariwisata adalah wujud industry kreatif masyarakat setempat dalam mengembangkan kehidupan berkeseniannya yang telah dilakukannya secara berkelanjutan. Hal itu dapat diamati dari keberadaan seni pertunjukan pariwisata daerah ini yang sesungguhnya sebagian besar merupakan kemasan, pengembangan dari bentuk-bentuk kesenian (Bandem, 1996; Soedarsono, 1999; Dibia; 2000; Picard, 2006; Ruastiti, 2008).
Tantri, (1965: 60-80) mengatakan bahwa produk-produk pariwisata baik itu atraksi wisata dalam dunia pariwisata saat ini adalah kebudayaan. Karena kebudayaan yang dimilki oleh manusia-manusia di dunia ini telah berkurang akibat berkembangnya globalisasi. Dengan demikian maka,issue kebudayaan menjadi issue terpenting yang ditangapi oleh ahli-ahli peneliti jaman sekarang,untuk bertujuan menyeliti dampak baik buruknya suatu kebudayaan bagi masyarakat lebih-lebih di bidang kepariwisataan
Giddens (1986) menyatakan bahwaberbondong-bondong wisatawan mengunjungi suatu tempat maka membuat masyarakat setem berpikiran bahawa untuk menarik dan menurak apa yang wisatawan tersebut maka apa saja yang bisah dibuat oleh masyarakat karena “nilai tukar” berkaitan erat dengan “komoditi”. Komoditi mempunyai nilai ganda, di satu pihak mempunyai “nilai pakai” (use value), dan di pihak lainnya mempunyai “nilai tukar” (exchange value).
Masyarakat local memiliki beberapa peluang untuk mengembangkan suatu keanekaragamanya menjadi suatu objek daya tarik wisata serta memasarkanya kepada para wisatawan. Yang harus dipasarkan kepada wisatawan dalam dunia pariwisata sa’at inilah ialah hasil produk peningalan budaya seperti tari-tarian kuno, sistem perpakaian kuno dan nyanian kuno. (Dibia, 1999: 51). Namun produk tersebut harus memiliki niali yang tinggi dibanding  nilai-nilai kebudayaan lain.
Budaya-budaya kuno akan mengundang perhatian wisatawan jika pihak berwewenan melakukan promosi serta memasarkanya kepada wisatawan yang mana jarang atau bahkan belum pernah melihatnya atau sama sekali tidak ada di daerah asalnya, dengan melalui keunikan dalam kebudayaan tersebut maka merupakan pola ketertarikan yang nantinya menhasilkan beberapa keuntungan berupa ekonomik. Dalam kepariwisataan, budaya memiliki unsure penentu dalam penarikan daya tarik wisatawan. Karena adanya suatu budaya dalam suatu masyarakat setempat maka budaya tersebut merupakan suatu objek tarik wisata untuk menarik wisatawan untuk mengunjungi serta rasa inggin tahu bagaimana budaya yang dimiliki masyarakat tersebut. (Seramasara, 1997: 63).
Wisata Budaya ; berkaitan dengan ritual  budaya,tarian budaya,kesenian budaya,tingkah laku masyarakat, serta pola kehidupan bermasyarakat( Seramasara, 1997: 63). Dengan demikian maka sangat ada kaitan erat antara budaya yang dimiiki seseorang atau sekelompok orang guna menjadi atraksi wisata guna mendatangkan banyak wisatawan.(Pandit 2004:12) karena nilai-nilai cultural yang diisikan ke dalam pariwisata tersebut memiliki segi keunikan yang sangat jahu berbeda dengan dunia masa sekarang
2.4 Definisi Karakter Seseorang Dalam Dunia Pariwisata
    Seperti yang dikemukakan oleh: Barker (2004:14),mengatakan bahwa karakter seseorang dalam sebuah komunitas merupakan pola ketentuan seseorang itu sendiri untuk menetuhkan kehidupan bersamaanya dengan orang-orang disekeliling. Guna dalam dunia pariwisata terdapat beberapa karakter masyarakat local yang harus diperhatikan karena karakter masyarakat tersebut merupakan pola ketentuan yang dapat menentuhkan seorang wistawan untuk melakukan aktifitas wisatanya di lokasi tersebut
    Demikian juga dinambahkan oleh: Simon kemoni (1994:24) karakter masyarakat merupakan pola penentuh daya tarik wisatawan karena dilihat dari beberapa segi bahwa ada masyarakat yang tidak muda menerima wisatawan sedangkan ada pula wisatawan lain yang muda beradaptasi dengan para wisatawan. Karena berargumen bahwa adanya budaya yang berbeda dari wisatawan dengan masyarakat setempat. Untuk itu masyarakat selalu mempertahan nilai-nilai leluhurnya karena masyarakat tak inggin diperngaruhi oleh karakter-karakter wisatawan
    Untuk itu, perlu adanya pemberdayaan kepada masyarakat setempat agar dapat mengubah karakter masyarakat tersebut agar harus muda menerima wisatawan dari mancanegara. Namun adapun pengendalian dari pihak pemerintahan agar dapat memudahkan kemauan wisatawan serta masyarakat lokal tersebut. Serta menyatuhkan karakter wisatawan dengan masyarakat setempat melalui beberapa program mengenai pemberdayaan-pemberdayaan yang ada
2.5 Pengertian Minat Wisatawan
    Minat wisatawan merupakan ketertarikan seseorang dari orang-orang yang inggin melakukan suatu perjalanan untuk mengetahui sesuatu yang unik di suatu daerah. Biasanya orang-orang yang melakukan kegiatan perjalanan dinamakan tourist. Minat seorang Wisatawan adalah adanya Minat Khusus dari  dan Wisata Alam. Namun dunia pariwisata menidentifikasi bahwa adanya minat khusus wisatawan dikarenakan adanya suatu keunikan (Fandeli,1995).
    Minat wisatawan biasanya dipandang sebagai suatu kebutuhan,dan wisatawan biasanya dipangdang sebagai konsumen. Untuk itu,adanya minat wisatawan maka ada pula pengembangan atas suatu objek daya tarik wisata. Salah satu kategori obyek dan daya tarik dari pariwisata adalah kategori atraksi wisata minat khusus. Wisata minat khusus adalah suatu bentuk perjalanan wisata dimana wisatawan mengunjungi suatu tempat, karena memiliki minat atau tujuan khusus mengenai suatu jenis obyek atau kegiatan yang dapat ditemui atau dilakukan di lokasi atau daerah tujuan wisata tersebut (Read, 1980, Hall dan Weiler, 1992 dalam Anonim, 1995).
    Menurut Hall dan Weiler (1992) dalam tulisan Parikesit dan Muliawan (1997) menyatakan bahwa salah satu motivasi wisatawan minat khusus adalah quality seeking. Quality seeking yaitu motivasi pada pencarian terhadap bentuk-bentuk obyek dan daya tarik wisata yang mampu memberikan nilai manfaat yang berarti bagi wisatawan (rewarding), nilai pengkayaan atau pengembangan diri (enriching), nilai tantangan atau petualangan (adventuresome), serta nilai pengetahuan atau wawasan baru (learning) (Parikesit dan Muliawan, 1997)
    Secara umum potensi obyek dan daya tarik wisata yang menjadi basis bagi pengembangan wisata minat khusus dapat berupa (anonim, 1995):
a.    Aspek-aspek alam seperti flora, fauna, fisik geologi, vulkanologi,hidrologi, hutan alam, atau taman nasional maupun kelautan. Atraksi ini kemudian dikemas dalam bentuk wisata arung jeram (rafting), penjelajahan hutan (trecking), pengamatan burung (bird watching), scuba diving, penjelajahan gua-gua alam (caving), berselancar, menyelam, dan sebagainya.
b.    Wisatawan akan terlihat secara fisik, mental, dan emosional terhadap yang dikunjungi tersebut. Obyek dan daya tarik wisata budaya yang meliputi budaya peninggalan sejarah (built beritage) dan budaya kehidupan masyarakat (living culture). Atraksi budaya dikemas dalam bentuk wisata budaya peninggalan sejarah (situs arkeologi), wisata pedesaan, wisata budaya eksotik, dan sebagainya. Wisatawan akan berinteraksi langsung dalam kehidupan budaya masyarakat setempat serta belajar berbagai hal dari aspek-aspek budaya yang ada.
c.    Obyek rekreasi buatan seperti wisata olah raga dan rekreasi khusus.
     Salah satu kelompok produk wisata minat khusus yang paling dominan adalah wisata petualangan, terutama yang berbasis pada potensi obyek dan daya tarik wisata alam (nature resource based) (Parikesit dan Muliawan,1997). Menurut Eagles (1995) dalam tulisan Parikesit dan Muliawan, (1997) mengatakan bahwa wisata petualangan yaitu suatu bentuk perjalanan wisata yang biasanya dilakukan di suatu lokasi yang memiliki atribut fisik yang menekankan pada unsur tantangan, ketegangan, rekreatif, dan pencapaian obsesi atau keinginan seseorang melalui keterlibatan dengan unsur alam.
    Parikesit dan Muliawan (1997) mengelompokkan kegiatan wisata minat khusus petualangan menjadi tiga, yaitu:
a.    Wisata petualangan alam hutan dan perairan darat, yang meliputi kegiatan seperti penjelajahan hutan, pengamatan flora dan satwa langka, wisata buru, arum jeram, penelusuran sungai/danau, kayak sungai/danau. Wisata petualangan alam geologi dan vulkanik, yang meliputi kegiatan seperti pendakian gunung, pengamatan gunung api, penelusuran gua, panjat tebing (rock climbing).
b.    Wisata petualangan alam bahari, yang meliputi kegiatan seperti scuba diving, coral viewing, surfing, sailing, dan sebagainya. Wisata minat khusus petualangan, yang selalu berinteraksi dengan alam merupakan bentuk wisata alam (ekowisata), karena dalam wisata petualangan para wisatawan diharuskan terlibat secara fisik terhadap kondisi dan tantangan alam. Wisata alam atau ekowisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela dan bersifat sementara untuk menikmati gejala, keunikan, dan keindahan alam di taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam (Qomar, 1997).
Dari beberapa minat wisatawan wisatawan diatas maka,wisatawan sendiri dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
a.    Wisatawan mancanegara: yaitu wisatawan yang melakukan aktifitas kepariwisataanya di suatu daerah di negara lain. Atau sering di sebut dengan foreign tourist yakni seorang tourist yang berasal dari negara asing dengan melakukan aktifitas kepariwisataanya di negara lain,dengan tujuan menikmati,berlibur, mehilangkan rasa kelelahan atau inggin mengetahui sesuatu yang jarang dilihat di negaranya sendiri
b.    Wisatawan domestic: yaitu wisatawan yang melakukan aktifitas kepariwisataanya di suatu daerah dengan tujuan menikmati suatu kehindahan atau keunikan. Namun wisatawan tersebut berasal dari dalam negeri. Serta adapula wisatawan dalam negeri yang bertujuan aktifitas ritualitas atau kebudayaan di tempat lain
2.6 Partisipasi Masyarakat Dalam Dunia Pariwisata
    Ada banyak ahli sosiologi yang mendefinisikan masyarakat dari berbagai perspektif yang berbeda. Menurut Hasansulama (1983) ada beberapa ahli sosiologi yang membedakan masyarakat sebagai berikut:
a.    Masyarakat adalah sekelompok manusia yang dengan cara teratur bekerja sama atas dorongan hasrat-hasrat sosial yang biasa disebut sebagai sifat-sifat naluriah manusia (Bouman, tanpa tahun)
b.    Masyarakat adalah segolongan manusia dalam keadaan berhubungan yang tetap atau agak tetap, yang diorganisir aktivitas-aktivitas bersamanya, dan yang merasa terikat kepadanya (Wiriaatmadja, tanpa tahun)
c.    Tinjauan Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Desa Masyarakat desa (rural community) ialah masyarakat yang hidup atau berada di desa (Hasansulama, 1983). Masih menurut Hasansulama (1983), masih banyak aspek yang melekat pada masyarakat desa yang mencerminkan corak dan sifatnya, yaitu:Basis ekonomi sebagai salah satu unsur strukturnya yaitu pertanian,Kebudayaan termasuk adat istiadatnya dan kepercayaan atau tradisinya,Aktifitas terutama mata pencaharian warga atau masyarakatnya. Dan masyarakat perkotaan (City Community) adalah masyarakat yang berdiam di perkoataan. Atau mayarakat yang tinggal di pingiran-pingiran perkoataan
    Sedangkan Dalam teori partisipasi disebutkan bahwa pembangunan pariwisata berdimensi kerakyatan mengacu kepada pembangunan pariwisata yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Partisipasi efektif merupakan tujuan konsep pariwisata ini. Wewenang atau kekuasaan masyarakat lokal untuk berpartisipasi secara efektif memobilisasi diri dalam mengelola sumber-sumber daya setempat.
Yang menjadi tolak ikatan antara budaya dengan pariwisata maka perlu adanya partisipasi masyarakat yang bersifat partisipatori. Karena masyarakatlah yang memiliki budaya dan masyarakatlah yang mengembangkanya. Menurut (Goris, 1933 : 330) dalam bukunya yang berjudul “Community participation in development” mengatakan bahwa masyarakatlah yang menjadi objek pengembangan atas suatu negara. Karena masyarakat memiliki naluri pikir serta daya kuat untuk memasarkan serta menginginkan kehidupanya berubah,untuk itu perlu adanya perubahan dari masyrakat sendiri untuk berpatisipasi dalam semua hal
Cernea (1991 dalam Pujaastawa, 2005) menyatakan bahwa pendekatan ini melibatkan masyarakat sebagai proses pengembangan dirinya. Sementara dalam konsep teori perubahan sosial, dititik beratkan pada bentuk-bentuk perubahan struktur sosial masyarakat sebagai konsekuensi perubahan nilai yang berkembang di masyarakat bahwa pengikutsertaan masyarakat dalam kegiatan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab pemerintah melalui kegiatan penyuluhan, bimbingan, pendidikan, dan penelitian tentang lingkungan hidup (Hardjasoemantri, 1991).
Sebenarnya telah ada dijelaskan bahwa pariwisata dapat menjadi kekuatan berarti untuk upaya konservasi dengan menyediakan keuntungan bagi masyarakat lokal (Brandon, 1993). Menurut, Mac Kinnon (1990) keberhasilan pengelolaan kawasan yang dilindungi, termasuk wisata alam dan wisata budaya banyak bergantung pada kadar dukungan dan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat pada kawasan yang dilindungi. Ini berarti parisipasi masyarakat telah sangat berguna,karena sejak sebelum dikembangkan telah dijaga oleh masyarakat setempat sebagai wilayah penguasaan mereka namun jika dikelolah dengan baik maka akan mendatangkan beberapa hasil (Soeroso, 1997).
Menurut Sumahadi (1998), partisipasi masyarakat dalam pariwisata sebagai salah satu kegiatan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari, banyak ditentukan oleh seberapa jauh tingkat manfaat ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat terutama di sekitar kawasan pariwisata.
    Partisipasi masyarakat meliputi pemantapan atau pendirian komisi pengelolaan penginapan, pembangkitan kembali komisi pengelolaan hutan secara tradisional, yang bertanggung jawab dalam penegakan peraturan, member denda pada pemburu liar, dan mengawasi penebangan kayu, serta masyarakat dapat melakukan kontrol terhadap pembuatan kebijakan (Brandon, 1993). Ada suatu usulan konsep pariwisata berbasis kemasyarakatan (Horwichdkk, 1993) sebagai berikut:
a.    Ekowisata yang murni harus menginterpretasikan masyarakat local sebagai mitra sejajar dalam desain, pelaksanaan, dan setiap aspek dari prospek yang menggunakan lahan dan sumber daya yang merupakan bagian dari pola subsistemnya.
b.    Semua rencana yang mengikutsertakan sumberdaya lokal harus direncanakan dan diterapkan pada level desa, maupun prospek tersebut mempunyai cakupan yang lebih luas.
c.    Penggunaan sumberdaya yang tersedia seperti ketrampilan masyarakat lokal, tenaga buruh, staf dan pemandu wisata.
d.    Kebutuhan wisatawan harus merupakan prioritas kedua setelah usaha pengawetan terhadap sumber daya alam dan pelibatan masyarakat lokal.
e.     Proyek harus berbasis luas dengan derajat partisipasi yang luas pula.
f.    Masyarakat lokal harus berpendidikan, sehingga dapat memberikan arahan-arahan mengenai konservasi dan juga harus diperkuat dalam hal manajemen dan administrasi pekerjaan-pekerjaan jangka panjang.
g.    Rancangan dan cakupan pembangunan harus pada skala yang memadai dan tepat dengan kondisi kehidupan setempat, stuktur sosial, pandangan budaya, pola sub sistem, dan organisasi kemasyarakatan.
2.7 Keuntungan Pariwisata Bagi Masyarakat Local
Pariwisata merupakan kegiatan wisata yang mampu meningkatkan kemampuan finansial kawasan konservasi sebagai modal kegiatan konservasi, meningkatkan peluang lapangan kerja bagi masyarakat sekitar kawasan pariwisata, serta meningkatkan kepedulian masyarakat akan arti pentingnya upaya-upaya konservasi alam (Adhikerana, 1999).
Menurut Anonim (1995) pariwisata yang bertumpu pada masyarakat (community based tourism) bertujuan untuk:
a.    Memajukan tingkat hidup masyarakat dan sekaligus melestarikan identitas serta tradisi lokal.
b.    Meningkatkan pendapatan secara ekonomis dan sekaligus mendistribusikan pada masyarakat lokal.
c.    Berorientasi pada pengembangan wirausaha berskala kecil dan menengah dengan daya serap tenaga kerja besar dan berorientasi pada teknologi tepat guna.
d.    Mengembangkan semangat kerja sama sekaligus kompetisi.
e.    Kepemilikan bersama aset dan sumber pariwisata dengan anggota masyarakat.
f.    Memanfaatkan pariwisata seoptimal mungkin sebagai agen penunjang tradisi budaya.
    Kegiatan pengembangan pariwisata di kawasan konservasi mampu memberikan efek ganda (multiplier effect) terhadap pengembangan ekonomi rakyat dalam bentuk pemberian peluang usaha dan kesempatan kerja kepada masyarakat sekitar obyek ekowisata (Sumahadi, 1998). Bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dapat berupa penyediaan pusat interpretasi dan pengunjung, mengurus pembagian penghasilan dengan sebagian dari biaya masuk lokasi wisata dialokasikan untuk masyarakat lokal, serta menanam pepohonan, memelihara jalur setapak, dan membangun toko atau warung untuk menjual makanan, minuman, dan souvenir (Brandon, 1993).
    Dengan demikian,maka pariwisata sangat berarti bagi masyarakat local. Karena pariwisata suatu peluang yang mana bisa membuka lapangan kerja, menambah pendapatan masyarakat dari pembelanjaan wisatawan,pempromosian budaya masyarakat local ke mancanegara, melestarikan lingkungan sekitar. Untuk itu dengan adanya pengembangan pada suatu objek wisata sebagai daerah tujuan wisata maka akan mendatangkan beberapa keungutungan tersebut.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini,penulis menggunakan metode penelitian deskriptif yaitu mendeskripsikan atau menggambarkan dan melukiskan hubungan antara fenomena yang diteliti. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya. Penelitian kualitatif memiliki karateristik dengan mendeskripsikan suatu keadaan yang sebenarnya, tetapi laporannya bukan sekedar bentuk laporan suatu kejadian tanpa suatu interpretasi ilmiah atau adanya teori-teori yang bisah membantu
Tipe penelitian ini menyajikan satu gambar yang terperinci tentang satu situasi khusus,setting sosial atau hubungan,yang digunakan jika ada pengetahuan atau informasi tentang gejala sosial yang akan diselidiki atau dipermasalahkan. Pengetahuan tersebut diperoleh dari survei literatur, laporan hasil penelitian, atau dari hasil studi eksplorasi. Melalui pengetahuan atau informasi yang dimiliki tentang gejala yang diselidiki dan dengan melakukan pengukuran yang cermat atas masalah tersebut akan dapat dideskripsikan secara jelas dan terperinci tentang apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana dan mengapa dari gejala itu. Jadi penelitian deskriptif berhubungan dengan frekuensi, jumlah dan karakteristik dari gejala yang diteliti.
3.2 Gambaran Mengenai Lokasi Peneliti
Penelitian ini akan dilaksanakan di Districk Baucau,Sub-Distric Venilale,Suco Bado-oh, tepat pada Objek wisata Be’e Manas Waikana. Yang mana sering dikunjungi oleh wisatawan baik itu local maupun international. Dan nantinya peneliti melakukan penelitian dengan melibatkan obyek yang akan diteliti yaitu masyarakat setempat serta wisatawan yang datang pada sa’at peneliti sedang melakukan aktifitas penelitianya di tempat tersebut
3.3 Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data
3.3.1  Sumber Data
Menurut Silalahi ( 2010 : 289 ) bahwa “data untuk suatu penelitian dapat dikumpulkan dari berbagai sumber”. Sumber data dapat dibedakan atas sumber data primer (primary data) dan sumber data sekunder (secondary data).
a)    Sumber data primer
Sumber primer adalah suatu objek atau dokumen original-material mentah dari pelaku yang disebut “first-hand information” . data yang dikumpulkan dari situasi aktual ketika peristiwa terjadi dinamakan data primer. Data primer dalam penulisan laporan ini diperoleh atau dikumpulkan langsung dari responden peneliti, yang dalam hal ini menggunakan pedoman wawancara atau interview
b)    Sumber data sekunder
Data sekunder merupakan data yang dikumpulkan dari tangan kedua atau dari sumber-sumber lain yang telah tersedia sebelum penelitian dilakukan.

3.3.2 Teknik Pengumpulan data
Pengumpulan data yang diperlukan sesuai dengan objek yang diteliti maka teknik yang digunakan adalah :
1.    Pengamatan atau observasi; yaitu sebelum melakukan penelitian,peneliti dengan melakukan pengamatan umum mengenai beberapa hal yang akan diteliti tersebut. Setelah melakukan pengamatan maka peneliti dengan menyusun beberapa pertanyaan yang akan dituangkan ke dalam lembaran questioner guna melakukan penelitian dengan cara wawancara
2.    Focus Discusion Group (FGD),yaitu suatu cara dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan sistem membentuk group-group discussion guna memperoleh imformasi dari group-group tersebut
3.    Field research, atau penelitian lapangan, dengan cara wawancara/interview yaitu mengadakan wawancara dengan orang-orang yang berhubungan dengan bidang yang diteliti secara face to face atau individu.
4.    Library research, yaitu cara pengumpulan data dengan menggunakan buku-buku yang ada hubungannya dengan penelitian atau literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian.
5.    Penelusuran data On Line atau dengan menggunakan fasilitas internet.
Peneliti pun melakukan penelitian khusus kepada pengelolah objek wisata serta wisatawan asing dan local yang mengunjungi objek wisata tersebut secara  purposive sampling yang mana menidentifikasi obyek peneliti sangat penting. Obyek peneliti secara purposive sampling dalam penelitian ini antara lain:
1.    Masyarakat yang berdiam di dekat objek wisata be manas Waikana
2.    Kepala masyrakat dalam Suco
3.    Wisatawan mancanegara dan domestic
4.    pengelolah objek wisata
5.    serta kepala adat
3.4 Teknik Analisa data
Teknik analisis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Analisis dilakukan dengan menggambarkan atau menjelaskan data yang diteliti atau di dapatkan dari lapangan baik data primer yang di dapatkan dari hasil wawancara, maupun dari data sekunder. Data yang diperoleh kemudian dilakukan proses editing, klasifikasi data, tabulasi data dan interpretasi data, yang kemudian akan diambil kesimpulan untuk menjawab masalah yang akan diteliti.

Pemilik proposal:

Nama: Cornelio Fernando Gusmao

Image

bebaskan rakyat dari segala penindasan sesegera munkin, jika tidak maka kamu akan ku bunuh

Ketua senat Fakultas Ekonomi (Universitas nacional Timor Lorosa’e UNTL)